Disemihasi Geopark Perlukan Sistem Komunikasi Pembelajaran Integral

Disemihasi Geopark Perlukan Sistem Komunikasi Pembelajaran Integral

Pelabuhan Ratu – Pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di kawasan geopark memerlukan kebijakan integratif dengan titik tekan pada bidang infrastruktur.
Ade Irma Susanty, Wakil Dekan I Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University, mengatakan, pihaknya sedang melakukan riset di Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, 9-13 April.

“Kami temukan banyak kearifan lokal di Geopark, banyak potensi yang dapat dikembangkan di seluruh area Geopark. Namun demikian norma-norma lokal yang dianut masyarakat setempat perlu dipertimbangkan, jadi tak bisa semua UKM dikomersialkan optimal. Misal di Kampung Adat Sinar Resmi, adanya batasan lahan yang boleh digunakan untuk melakukan  cocok tanam akan menyebabkan jumlah produksi yang dapat dijual menjadi terbatas,” katanya dalam rilis yang dikirim dari Ciletuh, Kab. Sukabumi, Selasa (11/4/2016).

Produk yang bisa dijual pun, semisal gula aren dan kripik pisang, proses produksi jadi terbatas karena bahan baku yang tersedia juga terbatas. Ketika permintaan melonjak, sangat mungkin tidak terpenuhi sehingga sulit menciptakan customer satisfaction.

Sementara produk pangan utama yakni beras malah sama sekali tak bisa dikomersialkan ke luar sekalipun produk yang dihasilkan berkualitas dan memiliki gimmick pemasaran kuat.

“Karena itu, secara makro, kami sarankan agar ada kebijakan pemerintah daerah yang integratif. Satu kluster UKM dengan lainnya saling sinergi, sehingga akses pasar tetap luas tanpa mengurangi nilai kearifan lokal,” sambungnya.

Dosen spesialias kajian UKM ini menambahkan, akses ke sejumlah destinasi wisata konservasi Ciletuh pun belum merata. Jalan utama umumnya sudah baik, namun ke lokasi masih relatif jelek dan menyulitkan pengunjung.

Dia mencontohkan di Curug Sodong, Desa Ciwaru, yang jalan penghubungnya belum bagus dan malah berpotensi merusak kendaraan wisatawan.
“Tadinya kita bayangkan ada jualan kuliner khas Sukabumi di Curug Sodong, namun tidak ada. Ini wajar karena UKM pun pasti berhitung laku apa tidak, apalagi korporasi, jika akan buka akses pasar. Kalau tidak return, pasti tidak buka akses,” ujarnya.

Akses terbatas ini pula yang membuat air terjun di kawasan Geopark Ciletuh baru bisa tereksplorasi tujuh dari 12 titik. Seharusnya, jika ada kendala infrastruktur, maka bisa dikemas dalam wisata trekking.

Selain itu, UKM yang sudah beroperasi didorong ikut mengampanyekan gerakan lingkungan bersih. Dengan demikian, akan membuat seluruh pihak turut meningkatkan kebersihan dan kenyamanan geopark yang belum sebaik kawasan wisata/geopark serupa di daerah lainnya.

“UKM bidang wisata harus sadar lingkungan, tingkatkan kebersihan agar pengunjung nyaman. Ini perlu terus didorong secara konsisten dan berkelanjutan bersama para komunitas,” katanya.

Ade menekankan, para pihak terutama pemerintah daerah perlu lebih mengoptimalkan seluruh kendala tersebut, sehingga dari kendala yang ada, menjadi  peluang bisnis optimal bagi UKM.

Di tempat sama, Ketua Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Unpad, Prof. Mega Fatimah Rosana, PhD., mengatakan, unsur akademik sangat penting dalam peneguhan posisi geopark Ciletuh dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi.

“Kita sekarang sudah dapat dua geopark nasional dari Unesco. Pertama geopark Ciletuh per 22 Desember 2015 dan geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu per 21 Juni 2016. Sekarang mengejar geopark global, itu perlu dorongan akademik,” katanya.

Geopark tersebut terdiri atas 8 kecamatan, 74 desa, seluas 126 hektar, dengan bentuk amfiteater (bentang alam setengah lingkaran) dengan luas 15 km.

Menurut Mega, Unesco sebagai badan dunia PBB bidang pendidikan dan budaya, maka perlu diyakinkan dengan adanya riset akademik serta publikasi internasional dari perguruan tinggi terkait Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu.

Di sisi lain, belajar dari sejumlah lokasi calon geopark global di tanah air, ada yang gagal karena diseminasi geopark belum maksimal oleh para pemangku kepentingan.

“Indonesia sekarang baru punya dua geopark nasional yakni Batur Bangli di Bali dan Gunungsewu Jating. Geopark Merangi Jambi dan Kaldera Toba sudah diajukan tiga tahun lalu tapi belum lolos. Bahkan di Rinjani, gagal geopark global itu karena belum masuk kurikulum pendidikan dasar menengah. Maka itu, acara ini kami gempur ke para pendidik agar masuk muatan lokal,” sambungnya.

Menanggapi permasalahan akademik, Dewi K. Soedarsono, PIC Tim Riset Geopark dari Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University (TelU) mengatakan, geopark bisa menjadi global dengan sinergi kalangan akademik.

“Namun musuh kita semua sekarang, kita ketahui bersama adalah gadget. Siswa mudah teralihkan, kita harus mengajar dengan menarik,” katanya di sela-sela Sosialisasi ke 300 Kepsek-Guru Kawasan Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu di Aula Setda Kabupaten Sukabumi, Pelabuhan Ratu, Senin (10/4/2017) siang.

Untuk menarik atensi siswa, kata dia, ada dua tips. Pertama, mengajarlah dengan pendekatan 5W dan 1 H. What yakni memilih satu tema menarik, jangan semua diajarkan ke siswa karena bisa tidak efektif.

“Who itu kebiasaan tiap sekolah beda jadi perlu pendekatan beda, untuk where adalah mau cerita dimana, di dalam kelas apa aula atau lapangan sekolah. When adalah lihat jam berapa materi diberikan, kalau jam istirahat, maka tak bisa panjang lebar,” katanya.
Dewi mengatakan, Why itu menjelaskan mengapa materi ini penting diketahui siswa sementara how menekankan teknik komunikasi. Misalnya untuk anak SD, maka teknik mendongeng (story telling) yang harus dikedepankan.

“Dan tips kedua adalah lakukan metode KISS, yakni Keep It Short and Simple. Materi harus singkat padat dan disajikan secara menarik. Makin panjang itu makin tidak mengerti. Jadi, dua tips inilah yang membentuk sistem komunikasi pembelajaran integral,” sambung ketua kelompok keahlian tersebut. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 5 =